beberapa waktu lalu dibulan september kami mewawancarai pemilik rumah makan sarumpun
RM Sarumpun
RM Sarumpun
Informant Profile
Name : Iqbal Nural
Company : RM Sarumpun
Date : April 2017
Duration : 45 minutes
Interview Transcript (Available in Bahasa Indonesia with a little bit of English words)
Interviewer : Nama lengkap anda?
Informant : Iqbal Nural
Interviewer :
Sekarang umur berapa?
Informant : Umur 22 tahun
Interviewer : Iqbal asalnya dari mana? Bukan Bandung kan?
Informant : Bukan, saya dari Padang.
Interviewer : Kalau
background pendidikan terakhir?
Informant : SLTA. Saya sebentar lagi lulus S1
SBM ITB.
Interviewer : Ini bisnis sendiri atau keluarga?
Informant : Ini bisnis keluarga, sama orang tua saya.
Interviewer : Sudah berapa lama menjalankan usaha
Sarumpun ini?
Informant : Awal berdiri April 2017, jadi sudah satu tahun lebih.
Interviewer : Baru satu ini kan, belum ada
cabang-cabang lagi? Atau di Padang ada?
Informant : Kalau di Padang engga. Di Braga ada
sih.. kita ngisi di Festival GO-FOOD gitu di sana.
Interviewer : Festival GO-FOODnya itu permanen
atau..?
Informant : Setahun. Jadi itu sebenarnya khusus
untuk festival GO-FOOD itu. Diundang gratis ke sana.
Interviewer : Boleh cerita sedikit ga tentang
Sarumpun ini, kenapa awalnya pengen mendirikan di Bandung? Padahal udah banyak
juga rumah makan padang di sini.
Informant : Jadi pertama itu karena saya juga
kuliah di Bandung kan.. Waktu itu 2 tahun awal masih saya sendiri di Bandung.
Waktu udah mau masuk 3 tahun terakhir, yaitu tahun lalu, kayak udah pada sibuk
masing-masing. Saya sibuk kuliah di Bandung, ayah sibuk kerja ke luar kota,
terus abang udah ke Jakarta, tinggal adek sama nyokap. Karena nyokap ga tahu
mau ngapain, ga ada kerjaan, akhirnya dia iseng pengen ke Bandung. Waktu itu
semua pindah ke Bandung deh.
Interviewer : Tapi pas pindah ke Bandung itu udah
kepikiran mau buka usaha?
Informant : Rencana awalnya dari saya sih.
“Sometimes kita bikin rumah makan ya di Bandung.” Udah pernah saya omongin
waktu tahun pertama. Jadi rencana itu baru direalisasikan tahun lalu. Karena
pertama, biar berkumpul juga.. kan Jakarta-Bandung deket tuh, antara abang
dengan kita deket jaraknya. Terus bokap saya juga sudah mau pensiun. Dan alasan
kenapa bikin rumah makan karena nyokap juga hobi masak. Sebelumnya nyokap punya
catering di Padang, udah lama dari saya masih kecil. Terus sempat juga buka
rumah makan padang di sana tapi namanya bukan Sarumpun.
Interviewer : Ohh berarti sudah pernah bisnis
makanan juga ya?
Informant : Iya.
Interviewer : Tapi pasti kan banyak risiko dong
kalau buka di Bandung ini. Apa yang membuat kamu yakin bisa menepis
risiko-risiko tersebut?
Informant : Intinya kita sih pegang kualitas ya.
Kalau kamu liat di spanduk kita tulisannya no MSG. Nah itu yang jadi keunggulan
kita, unique value kita. Yang mana kebanyakan rumah makan padang itu hampir
semua pakai MSG masaknya. Jadi
benar-benar bahan-bahan yang kita gunakan itu dari raw, misalnya jahe dikupas
langsung.
Interviewer : Bumbunya alami banget gitu ya?
Informant : Iya. Kan ada tuh kayak di pasar
jualnya bumbu jadi kiloan yang udah diblender. Nah kita tuh dikupas dulu,
diblender, diracik sendiri. Nah itu yang bikin kita yakin bisa bertahan di
Bandung. Terus untuk rasa dari makanan sendiri, bahan-bahan fresh dan bagus
juga mempengaruhi. Nah itu yang pertama kualitas. Yang ke-2, harga. Misalnya
harga di pasar naik, kan ada orang yang masih tetap pasang harga menu ya segitu
aja, tapi kualitasnya dikurangin. Nah kita ga mau. Kita bilang ke pelanggan
bahwa kita harganya naik. Tergantung bahannya juga gimana kan. Karena kita ga
pengen kualitas berubah gara-gara harga pasar. Karena orang kalau misalkan
sudah suka sama cita rasa dan kualitas kita, udah, uangpun akan dibayar. Karena
mereka puas kalau makan itu, dalam artian bukan hanya dengan harga murah,
tetapi juga karena segi rasa.
Interviewer : Bagaimana caranya kamu menyampaikan
harga naik tersebut ke customer ?
Informant : Kalau di sini kan lebih family gitu
ya, beda sama rumah makan lain. Jadi misalnya ada yang pesan, kita hitungnya
per item. Misal satu piring ada nasi, lauk, sayur segala macam. Kita hitungnya
per item. Nasi satunya berapa. Jadi kalau misalkan harga si dagingnya naik,
kita bakal bilang, “Oh ini harga rendangnya naik ya.” gitu. Dan di sistem orderan
juga harganya dinaikin. Nah yang ke-3, kita lebih ke pelayanan. Nge-treat
customer secara kekeluargaan, misalnya kayak nyokap saya, dia sangat
approachable ke customer. Dia bisa berkomunikasi sama konsumen dengan baik,
makanya konsumen kita di sini tuh loyal customer.
Interviewer : Ohh banyak yang loyal ya?
Informant : Iya, karena berpegang pada kualitas
dan yang sudah saya sebutkan itu.
Interviewer : Jadi kamu memang sudah ada pikiran
untuk membangun value seperti itu, beda dengan orang lain?
Informant : Iya, mau beda dari yang lain. Nah
kalau misalkan di sini orang ambil makanan, sebenarnya kalau di rumah makan
lain orang nambah cabe lagi kan harus bayar lagi, kalau kita mah gapapa. Boleh
nambah-nambah kayak gitu. Kalau di sini target kita tuh bukan profit
sebenarnya, tapi lebih agar sustained ke depannya. Sustain itu dalam artian,
hubungan kita sama customer baik, dan customer bisa loyal sama kita. Beda yang
cari profit sama yang nyari hubungan. Jadi biarinlah ibaratnya profit kita
tipis, asalkan muter gitu.
Interviewer : Iya benar.
Informant : Misalkan yang belanjanya sering
balik lagi, kayak gitu. Jadi itu yang ke-3. Terus yang ke-4 itu quality control
sih, ke nyokap yang bagian operasional kan. Untuk jauhi risiko itu, ada
takarannya, misalkan pas bikin rendang butuh cabe 10, tapi dimasukinnya 8 cabe.
Itu akan beda rasanya dan berhubungan juga dengan kualitas tadi. Jadi ga bisa
cabe itu sembarang aja dimasukkan, atau bawang sembarang dimasukkan.
Interviewer : Jadi ga bisa pake feeling feeling
doang ya?
Informant : Gabisa.. harus ada SOP yang jelas.
Kecuali yang bikin nyokap saya ya gapapa. Karena dia udah punya feeling
sendiri. Tapi karena sekarang di sini yang masak itu tukang masak beda lagi,
bukan nyokap saya, jadi harus sesuai dengan takaran. Misalkan nih bawang harus
beraga gram, gitu.
Interviewer : Ada takaran pastinya ya. Nah tapi
kalau kayak gitu ga takut apa risiko kalau pegawai ambil resepnya?
Informant : Nah itu satu lagi, karena kita
memang kekeluargaan, jadi ya udah kalau misalkan si karyawan pengen ambil
resep, ya berarti itu kayak beramal aja sih.
Interviewer : Jadi gapapalah sharing ilmu?
Informant : Iya sharing ilmu gitu. Soalnya
nyokap juga kan tipe orang yang karena dia banyak resep rahasia, jadi dia pikir
ya udahlah gapapa sekalian aja. Toh kan juga misalkan dia bakal buka rumah
makan sendiri, bakal jadi amal juga kan bagi kita. Banyak kok yang di sini yang
dari tukang masak akhirnya dia berhenti, dia bikin rumah makan sendiri. Ada,
udah sekitar berapa orang gitu.
Interviewer : Jadi ga mengkhawatirkan resep dicuri
ya?
Informant : Ga mengkhawatirkan sih, karena to be
honest, emang bakal beda. Tangan orang sama tangan nyokap saya akan beda.
Sedangkan di sini aja, yang udah sering banget tukang masaknya, kadang bisa
beda rasanya.
Interviewer : Tapi kalau beda kayak gitu, rasanya
jadi ga konsisten dong?
Informant : Ga, maksudnya kalau nyokap yang
masak tuh rasanya benar-benar dari resepnya nyokap. Tapi kalau tukang masak
yang masak, harus sesuai takaran yang bakal mirip sama masakan nyokap.
Interviewer : Jadi walaupun bumbu yang diracik
sendiri tetap karyawan juga tahu ya? Ga ada resep yang bener-bener rahasia
gitu?
Informant : Ohh ga ada, ga ada rahasia begitu
sih. Ga ditutup-tutupin.
Interviewer : Oke, terus kenapa memilih bukanya di
Dipatiukur? Dan kenapa besar, 3 petak langsung?
Informant : Nah kenapa di DU karena memang DU
itu di tengah-tengah kampus gitu, dan rame. Lihat aja di depan itu kan rame
terus orang lewat. Terus juga tempatnya ketemu di sini yang deket sama kampus
saya ITB. Dan kenapa gede juga karena gapapa sih gede, kita pengen menarik
orang, ya kita harus bikin strategi yang bagus awal, sampai akhirnya juga
bagus.
Interviewer : Jadi gapapa modal keluarin banyak di
awal?
Informant : Iya modalnya gede sih.
Interviewer : Dapat tempat ini tuh cari-cari
sendiri?
Informant : Iya, kebetulan waktu itu tempat ini
kosong kan.
Interviewer : Jadi langsung ambil kesempatan itu
ya?
Informant : Iya langsung ambil.
Interviewer : Kalau tentang supplier, ada ya?
Informant : Ada.
Interviewer : Ada juga yang masih belanja di pasar
sendiri?
Informant : Ohh engga, kalau dulu sih ada
karyawan yang khusus belanja ke pasar. Kalau sekarang, si penjualnya yang
nganter ke sini. Karena skalanya besar dan udah tiap hari order. Jadi ya udah
dianterin aja sama orang itu.
Interviewer : Ohh gitu ya.
Informant : Karena itu sih pertama, alasan untuk
menjauhi risiko curang si pegawai. Karena pernah ketahuan curang, akhirnya, “ya
udahlah.. daripada kita belanja ke pasar.”
Interviewer : Pas karyawan belanja ke pasar, dia
curang gitu ya?
Informant : Iya dia curang. Dia kadang
naik-naikkin harga. Pernah ketahuan. Akhirnya solusinya, kerjasama aja sama
supplier, entar suppliernya yang anter ke sini.
Interviewer : Dan itu kamu yang urus?
Informant : Engga, itu bagian dapur.
Interviewer : Ohh ada yang me-manage masalah itu?
Informant : Ada. Jadi kalau misalkan kayak
belanja gitu, dia selalu bicarain sama nyokap sih. Mau tahu beli apa aja. Dan
itu biasa kayak pas udah malam, udah tutup buku yang harian, baru diskusi sama nyokap.
Besok mau belanja apa aja, berapa, gitu.
Interviewer : Ohh. Kalau dalam memilih karyawan
dalam tim, orang yang kamu kenal atau?
Informant : Iya, maksudnya kayak gini. Kan ni
ada karyawan, misalnya si A, dia punya kenalan juga, gitu loh. Dia punya orang
yang sekiranya layaklah kerja di sini. Awalnya kita kayak bikin recruitment
gitu, ada CV yang diajukan juga kan. Cuman karena..
Interviewer : Iklanin di mana tuh?
Informant : Ada di Instagram dan di job desk
gitu. Sampai akhirnya sekarang, “ya udahlah kita cari orang-orang yang kenal
aja. Kayak, “oh ini bu, saya punya ini bu.”
Interviewer : Jadi lebih enak juga ya?
Informant : Iya.. jadi lebih percaya juga kan.
Interviewer : Sarumpun itu ada di GO-FOOD dan
GrabFood ga?
Informant : Grab ada, cuman ya sistemnya masih
cash.
Interviewer : Kelihatannya mana yang lebih banyak?
Dari GO-FOOD atau makan di tempat?
Informant : Dari GO-FOOD lebih banyak, jam-jam
makan gitu kan. Banyak yang jam 7 sampai jam 12an. Bahkan jam 8 aja udah ada
yang pesan nasi. Sebenarnya kita nulis buka jam 7 itu jual menu sarapan aja.
Tapi orang udah ada aja yang pada pesan nasi dan lauk. Jadi yaudah, habis
nyiapin sarapan, langsung siapin lauk mulai jam 8. Jam setengah 8 orang udah
pesan ikan bakar, ayam bakar. Kalau belum matang, “apa aja yang udah matang?”
gitu. Ada juga yang mesan dari Ujung Berung, Cimahi, bahkan dari Pangandaran.
Kalau pesen ke sini kan jauh juga ya. Ada yang kadang dia belanja cuma 15 ribu,
ongkosnya bisa sampai 40 atau 30 ribu gitu.
Interviewer : Pernah promosi sampai ke Cimahi gitu
atau gimana? Gimana sampai orang yang jauh-jauh gitu bisa mau beli ini?
Informant : Mouth to mouth sama Instagram.
Interviewer : Ohh kayak Bandung Kuliner?
Informant : Kayak food blogger gitu. Saya sempat
bayar. Bahkan yang pegang instagram aja, photographernya orang lain.
Interviewer : Ohh jadi pakai photographer juga?
Informant : Iya, pokoknya yang kelola social
media itu ada oranglah yang handle.. itu dibayar juga dia.
Interviewer : Ohh jadi bayar untuk promosi waktu
itu ya?
Informant : Engga, untuk ke depannya juga. Kita
kerjasama sampai sekarang kok sama si photographer itu. Terus sempat bikin
Instagram Ads juga.
Interviewer : Ohh.. Ada rencana untuk buka cabang?
Informant : Pasti.
Interviewer : Mau buka cabangnya tuh apakah di Bandung
atau di mana?
Informant : Kayaknya Bandung dulu, baru merambah
ke kota lain.
Interviewer : Pernah kepikiran risiko apa aja sih
saat menjalankan bisnis ini?
Informant : Risiko rugi sih. Soalnya kan biaya
kontraknya aja mahal 3 petak ini. Terus bayar karyawan juga kan.
Interviewer : Ohiya jumlah karyawan Sarumpun ada
berapa orang?
Informant : Ada 10 orang.
Interviewer : Ohh. Berarti paling untuk menangani
risiko rugi, harus tingkatin salesnya ya. Ada ikut bazaar-bazaar gitu atau
festival?
Informant : Sempat waktu itu ikut di Salman,
terus pernah juga di tempat lain. Pernahlah pokoknya beberapa kali.
Interviewer : Kalau saat ini masih terus promosi
lewat Instagram?
Informant : Masih, di Instagram Sarumpun, kita
ngencengin Instagram Ads. Jadi kalau pakai influencer kita belum. Paling yah
saya aja sendiri yang promote.
Interviewer : Instagram Ads yang iklan berbayar
itu kan? Tapi itu manjur?
Informant : Manjur. Itu kan udah hampir sampai
satu juta viewersnya gitu.
Interviewer : Wow.. Jadi memang karena kamu yakin
produk kamu ini enak, langsung menyebar lebih luas gitu ya?
Informant : Iya, kita yakin sama value yang kita
pegang itu.
Interviewer : Dan saya lihat di GO-FOOD, Sarumpun
itu best seller ya?
Informant : Iya, ya makanya kita bisa diundang
GO-FOOD ke festival di Braga karena achievement itu. Jadi yang di festival itu,
one and only rumah makan padang cuman Sarumpun. Dibandingkan Sederhana, dia
kalah di GO-FOODnya.
Interviewer : Jadi benar-benar dengan ide yang mau
berbeda, no MSG, dan rasa yang dipertahankan, kamu yakin ini bisa kalahin yang
lain?
Informant : Bisa. Bahkan bukan cuman kita doang.
Dari orang-orang yang belanja ke sini pun mereka yakin malahan bisa ngalahin
Malah Dicubo, Sederhana, gitu. Ada customer ni ya, yang suka makan padang, dan
dia tahu “ohh ini ada Malah Dicubo, ada Pondok Jaya”, dsb. Begitu makan di
sini, “ohh ini beda loh, beda dibandingkan yang di situ. Padang yang ini tuh
benar-benar kayak lebih segar di lidah.” Makanya yakin Sarumpun ini bisa
menyebar dan disukai lebih banyak orang lagi.
Interviewer : Saat orang ngomong kayak gitu, kamu
suruh mereka beritakan atau promote Instagram kamu tidak?
Informant : Ohh engga. Ya orang pasti bakal
ngomong ke orang lain juga, dari mulut ke mulut kan. “Ohh di sana ada tuh yang
enak tuh rumah makan padang.” Pernah juga ada satu orang dosen SBM yang waktu
itu dia penasaran karena beli di GO-FOOD, terus akhirnya beberapa dosen SBM
makan di sini. Padahal cuman dari dia doang loh, semua dosen jadi tahu di sini
tempatnya.
Interviewer : Jadi kamu juga tidak sadar,
tiba-tiba aja udah makin rame GO-FOOD, gitu ya?
Informant : Iya yang paling kenceng itu dari
mulut ke mulut dulu, habis itu baru kita ke social media.
Interviewer : Ada yang ngecek ga apakah untuk
pembayaran auto debit GO-FOOD udah sesuai ga nih yang mereka bayar ke Sarumpun?
Informant : Ohh kita ga ngecek kayak gitu sih.
Interviewer : Berarti untuk finance, ga ada orang
yang benar-benar ngurusin perhitungan pembagian revenue sama GO-FOOD?
Informant : Ohh saya baru sadar juga sih. Selama
ini belum memperhatikan transaksi-transaksinya udah sesuai atau belum. Percaya
aja ke sistem. Belum dicek benar-benar secara keuangan.
Interviewer : Oke, kalau sesuatu yang sedang
dipikirkan atau menjadi pertimbangan kamu saat ini apa?
Informant : Pertimbangan kita saat ini pastilah
di penjualan. Terutama GO-FOOD gitu ya, itu kan di transfer ke rekening ya. Nah
itu uangnya belum bisa diambil langsung. Sedangkan yang namanya rumah makan kan
uang itu harus diputer balik gitu kan. Misalnya nih malam ini kita harus order
si bahan-bahannya, harus pakai cash. Otomatis kalau uang itu ga masuk ke
rekening kita, kita harus mengeluarkan uang baru lagi dari kantong. Kita tuh
pengennya uang itu langsung muter.
Interviewer : Jadi agak lama gitu ya?
Informant : Iya karena auto debit rekening itu
ga tentu ditransfernya kapan, jadi agak lama gitu sih.
Interviewer : Kalau saat bonding sama tim, gimana
caranya untuk build trust, agar mereka tahu di sini valuenya seperti apa? Ada
tidak karyawan yang telat datang kerjanya? Kan ini bukanya pagi banget jam 7.
Informant : Karyawan tidur di sini, disediain
kamar karyawan. Itulah kenapa kita berani buka jam 7 pagi, kita nyedian
sarapan. Makanya bukanya dari pagi sampai jam 11 malam. Ada shift juga sih,
yang si A istirahat jam berapa, gitu. Tapi ada juga karyawan yang tinggal di
Bandung ya dia balik ke rumah dia.
Interviewer : Ohh.. tapi modal itu dari keluarga
aja? Kamu ga ada pergi cari-cari investor, dsb.?
Informant : Tidak ada, dari kita sendiri saja
modalnya.
Interviewer : Alat masak masih pakai kompor biasa?
Informant : Ohh kita custom. Soalnya untuk masak
rendang gitu kan ga bisa kompor gas. Itu kan berat banget. Jadi kita bikin
sendiri, pesen kerangkanya. Karena itu khusus untuk masak yang berat-berat
kayak rendang.
Interviewer : Jadi alatpun udah sesuailah ya
dengan yang diperlukan?
Informant : Iya.
Interviewer : Bagaimana dengan makanan-makanan
tersisa gitu?
Informant : Akhirnya dibuang. Kita ga pakai
lagi, karena kita pertahankan kualitas kita kan.
Interviewer : Dibuang, ga dikasih jadi pakan
ternak gitu ya?
Informant : Engga sih.
Interviewer : Ohiya mau tanya, kalau Sarumpun yang
di Festival GO-FOOD Braga itu rame juga?
Informant : Sepi di sana. Karena tempatnya
memang sepi ya, dan kebetulan karyawan yang biasa kerja di situ belum pulang
pulang sampai sekarang.
Interviewer : Ohh jadi ditutup aja?
Informant : Iya ditutup sementara. Tapi memang
sepi sih.. cuma, ada rencana dari GO-FOOD, 6 bulan ini dia mau pindah tempat ke
Ciwalk atau ke BIP.
Interviewer : Nah itu ramean.
Informant : Iya, jadi kami menunggu itu. Tapi ya itu kan fasilitas juga
dikasih, ga bayar sewa juga jadi ga begitu masalah tutup juga.
(Ibunya Iqbal datang dan ikut
interview)
Interviewer : Ohiya bagaimana dengan peluang dalam
memperoleh customer? Apakah memang hanya menarik bagi pencinta masakan padang?
Informant : Kalau kita lihat, customernya cukup
bagus, menengah ke atas gitulah. Apalagi kita no MSG. Bahkan banyak yang dari
kesehatan. Itu dokter-dokter di Hasan Sadikin pesan di kita. Kadang pesan 40
porsi ke kita.
Interviewer : Oh udah langganan?
Informant : Terus Rumah Sakit Gigi Unpad juga,
Rumah Sakit Mata, dan RS Ginjal di Tubagus itu pesan juga. Terus Biofarma juga
pesan di kita. Yang rombongan ada makan ke sini, ada yang pesan paket. Cuma
yang rutin sekarang orang Biofarma beli pake GO-FOOD aja. Karena dengar-dengar
dapat informasi bahwa wakil dari direksinya buka kantin di sana. Orang Padang
juga. Tapi direksinya sering makan di sini. Malah asisten direksinya ngomong,
“direksi ini maunya di Sarumpun aja~”. Gitu..
Interviewer : Oh iya ya. Tapi awalnya bisa dibeli
sama orang-orang rumah sakit begitu, apakah ibu yang approach mereka, yang
promosiin.., atau mereka yang coba?
Informant : Mereka yang coba, kayaknya iseng
ya.. dan karena kita terkenal dengan no MSG, jadi orang kuliner pasti bisa
membedakan yang MSG dengan no MSG.
Interviewer : Jadi mereka yang menyebarkan tentang
Sarumpun ini?
Informant : Iya betul. Mudah-mudahan ya, tapi
kita setahun jalan itu masih tidak begitu keliatan ya. Dan di sini kan
daerahnya penuh sama mahasiswa, sekarang kerasa sama ibu, karena mahasiswanya
libur.
Interviewer : Jadi makin menurun penjualan?
Informant : Iya lagi menurun. Yang banyak tuh
mahasiswanya dari ITB. Unikom aja yang dekat, boleh dikatakan bisa dihitung
jari yang datang ke sini. Yang ke sini cuma pegawainya, dosennya. Yang banyak
ke kita itu Unpad, ITB, dan ITHB.
Interviewer : Iya bu, emang sih saya pernah beli
juga.. memang enak rasanya.
Informant : Iya, dan ibu utamakan kesehatan dan
kebersihan. Di dapur ibu bawel, harus dicuci. Jadi ibu bikin bumbunya tuh, dari
jahe dikupas, beli bawang dikupas. Ga ada yang instan. Karena bersih itu ngaruh
ke masakannya. Kalau dia ga bersih, itu ada bakteri atau virus yang
terkontaminasi dengan masakan dan membuat dia cepat basi.
Interviewer : Oh berkaitan semua ya?
Informant : Iya. Kalau kita bersih, makanan
tahan lebih lama. Makanya kayak santan aja contohnya, kemarin habis lebaran 2
minggu belum ada yang jual santan, ibu pakai Kara kan. Terus, kita mulai
jualan, tapi bukan langganan ibu. Ga bagus santannya itu.. Kita tahu emang ga
bagus kan, harganya lebih murah.
Interviewer : Kalau kayak gitu ibu kasih tahu
bilang, “kita ga pake santan yang biasanya nih”?
Informant : Iya ibu ngomong ke si pembeli, “ibu
nih sekarang ga pakai santan yang biasanya ibu, karena yang jualan belum ada,
ibu pakai Kara.” Ngomong..
Interviewer : Jadi benar-benar komunikasi ya?
Informant : Iya komunikasi gitu. Karena ibu juga
minta dikomen, gitu. Kalau feedbacknya baik, alhamdulillah tolong kasih tahu
teman, tapi kalau kurang, komen ke ibu. Jadi ibu selalu minta dikomen gitu.
Mereka kadang komen melalui Instagram, kadang langsung nelpon ke ibu juga.
Interviewer : Ohh.. ada yang kayak gitu ya?
Informant : Iya biasanya gitu. Jadi, sampai
karyawan ada kesalahan atau kekeliruan, ibu benarin. Contoh ya, dia pesan nasi
rendang. Ada yang ga ada lauknya, itu ibu pasti ganti, atau ibu pakai GO-JEK
atau Grab untuk nganterin. Ibu ga memikirkan ruginya gitu, yang penting
kepercayaan customer ke ibu. Tapi ga tahu ke depannya namanya usaha ya.
Sekarang nih ibu mau positif aja mungkin karena mahasiswa lagi libur.
Interviewer : Iya kalau sekarang memang kayaknya
lagi pada pulang kampung.
Informant : Iya, kalau engga, banyak kan
anak-anak.. ITB juga sering pesan nasi box ke ibu kan. Unpad juga, di sini kan
Unpad S2 ya. Kalau ibu lihat sementara sampai sekarang tuh masih positif. Ya
gatahu ya, namanya juga usaha ya, yang ngasih rezeki juga Allah.
Interviewer : Iya benar.
Informant : Cuma ibu pernah sempat ngomong ke
Iqbal, “bisa ga kita bikin makanan ke kantinnya SBM?” Pernah coba ngomong aja
kan. Kan kadang-kadang kita udah coba, mereka tahu, kan bisa sekalian promosi
kan.
Interviewer : Iya saya salut juga sih ke Iqbal,
maksudnya dia dari luar kota datang ke sini, terus bisa bikin usaha di sini
gitu.
Informant : Iya dulu waktu Iqbal baru kuliah,
dia kan ikut acara mahasiswa Minang ya. Pas ospek itu mesen aja nasi bungkus
untuk mahasiswa Minang. Akhirnya ibu bikinin.. Padahal itu di rumah kos loh.
Jadi pertamanya dari situ. Tadinya setiap ibu ngirim rendang gitu, dia cicipin
ke temannya.
Interviewer : Berarti awalnya dari situ dulu ya,
makanya jadi makin yakin, “ohh kayaknya orang-orang pada suka.”
Informant : Iya, jadi kemarin ada cerita gini..
Ada anak MBA namanya Gilang, dia makan di sini, makan sambal ijo. Enak
katanya.. Sampai dia nelpon, “bisa ga ibu memproduksi sambal?” Terus sambal
yang dia mau itu sambal hitam madura. Ibu bikin deh.. padahal ibu belum pernah
bikin itu, cuma dia kasih komposisinya beberapa item aja yang pokok-pokoknya,
“cabe, ini ini ini”. Terus ibu lihat juga di Google kan. Jadi ibu ambil dari
dia sedikit, dan ibu juga pakai feeling ibu sendiri, karena udah biasa masak
kan. Akhirnya kita bikin sample.. sambalnya bikin 3 jenis.. sambal lada ijo,
merah yang untuk lele, sama sambal hitam. Itu ketahanannya cuma yang hitam, ga
pake pengawet. Nah yang merah sama yang ijo pake pengawet, itu lebih tahan yang
merah daripada yang ijo. Akhirnya diambil kesimpulan bikin yang hitam aja.
Lumayan dia kemaren tuh udah pesan sampai 3 kilo. Dia udah bikin ke Jogja,
sampe Bali juga.
Interviewer : Sampai sekarang masih jalan ga itu
bu?
Informant : Kemaren mau puasa, dia mau pesan ke
ibu 10 kilo, tapi ibu dirawat.. sakit bronkitis. Jadi sempat berhenti tuh
sambal itu, sekarang belum ada berita lagi. Itu lumayan ibu jual ke dia satu
kilo, tadinya 235 ribu per kilo jadi ya. Terus dia minta tawar, ibu kurangi
lagi jadi Rp226,500 satu kilo sambal. Ternyata ibu jual segitu, mungkin pasti
untunglah dia, makanya mau pesan lagi kan.
Interviewer : Dia tuh buat bisnis rumah makan?
Informant : Engga, dia bikin brand sambal gitu
cuma pesannya ke ibu. Cuma ibu minta kemarin ibu mau diikutkan bikinin nama
produksinya ibu di sana “RM Sarumpun” gitu.
Interviewer : Iya.. bagus kayak gitu.
Informant : Iya.. jadi ada rencana kemarin untuk
dia mau urus badan POM. Rencananya kemarin mau ke ibu, ke dapur gitu.
Interviewer : Ohh berarti masih didiskusikan
kerjasamanya ya?
Informant : Iya.. sekarang karena ibu sakit
kemaren, dan dia juga ke Inggris, jadi belum kontakan lagi.
Interviewer : Ohiya ga ada rencana buka di kota
lain bu? Kayak di kampung saya di Kendari masih belum banyak rumah makan padang
tuh.
Informant : Ohh kalau yang nawarin buka mah
banyak. Ada yang nawarin ke Jogja, Bali. Bahkan yang dari Bali aja ada yang
suruh buka, kayak tadi malam aja, dia bela-belain ke sini dari Ujung Berung
cari nasi goreng. Terus dari Padalarang, dari Ciamis juga. Masa jauh-jauh sih..
emangnya ga ada yang lain.. kan gitu.
Interviewer : Dari jauh-jauh tuh pada ke sini ya?
Dengar dari mana sih mereka itu?
Informant : Gatahu juga.. Terus pas hari Minggu
menjelang puasa, GO-FOOD. “Bu, saya jauh loh bu..” “Oh iya? Dari mana A?” “Saya
sih dari sini, cuma customernya Padalarang mau mesen”. Cuma yang dipesan sayur
sama bubur sum-sum. Belanjanya cuma 25 ribu, ongkosnya 79 ribu.
Interviewer : Ya ampun.
Informant : “Gatahu saya nih bu”, kata
drivernya. Sampai dia maunya yang di Sarumpun gitu.
Interviewer : Berarti udah pernah kali ya dia coba
di sini?
Informant : Memang mungkin dia dinas di mana
gitu, dia ngomong, “udah biasa makan siangnya di sini.” Tapi dia tinggalnya di
Padalarang.
Interviewer : Udah dapat customer yang loyal ya.
Informant : Iya.. kalau kita lihat sih gitu ya.
Tapi namanya usaha kan naik turun ya.
Interviewer : Tapi ada besar kemungkinan sih buat
buka cabang juga di sana.
Informant : Iya ada rencana buka cabang, bukan
di DU aja. Sekarang terkendala di sini penuh sama lahan parkir, mahasiswa pada
parkir di sini. Jadi ada customer yang komen mereka terkendala parkir. Jadi
sekarang ibu memang pengen cari tempat yang lain dari sini, kayak kemaren teman
ada yang ngasihtahu di Antapani.
Interviewer : Tapi yang ini ditutup?
Informant : Untuk sementara jalan dulu, sembari
jalan di sini, kita mulai buka di sana. Siapa tahu bagusan di sana, mungkin
kita bisa pindah. Ini ibu lagi cari-cari nih.
Interviewer : Oke baik, kayaknya udah.. itu saja
interviewnya. Terima kasih banyak.
Informant : Oke deh.. sama-sama.
pada intinya membuka usaha bidang kuliner harus memiliki ciri khas dari rumah makan itu sendiri dengan menjaga kualitas sehingga konsumen bisa kita pertahankan dan menarik konsumen baru.

Komentar
Posting Komentar