Langsung ke konten utama

Wawancara Bersama Owner CC

Beberapa waktu lalu kami melakukan wawancara dengan owner salah satu ricebox di Kota Bandung.


Informant Profil

Name : Aldy N
Company: CC
When : Monday
Duration : 60 minutes

Interviewer : Nama lengkap anda?

Informant : Aldyan Natanael
Interviewer : Sekarang umur berapa?
Informant : Umur 28
Interviewer : Asli orang Bandung?
Informant : Iya asli Bandung.
Interviewer : Kalau background pendidikan terakhir?
Informant : S2 MBA ITB.
Interviewer : Kapan awal berdirinya CC?
Informant : Awal berdiri 2014. 1 tahun itu punya 5 cabang, tutup, lalu bulan April tahun 2015 buka lagi. Buka di Unpar, terus buka di Palembang franchise. Habis itu buka lagi sampai sekaranglah.
Interviewer : Boleh cerita sedikit tentang CC? Kenapa bisa kepikiran mendirikan CC?
Informant : Karena iseng. Pengen punya bisnis dengan modal kecil, yang berakhir punya utang hehe.
Interviewer : Tidak ada value yang ingin diberikan kenapa ricebox? Kenapa yang menyerupai Shihlin produknya?
Informant : Tidak ada. Karena saya resepnya punya itu. Sederhana sekali ya. Itu temen saya yang bikin, dulu dia bagian dari tim saya.
Interviewer : Sekarang CC punya berapa employee?
Informant : Ada 8 orang. Ngapain banyak-banyak kalau bisa by system.
Interviewer : Nah, dari awal usaha CC sampai sekarang, pasti sudah banyak pengalaman. Pengen tahu risiko-risiko yang anda alami dalam menjalankan bisnis, terutama dalam team, opportunity, dan resource.
Informant : Kita bahas yang team dulu. Risikonya adalah salah memilih tim. Mungkin kita tidak begitu mengenal dia, tidak tahu kompetensi dia, dan kita tidak punya standard buat expect dia kerja kayak apa, kayak yang kita pengen. Mungkin setelah kerja ternyata dia tidak kompeten, tidak maksimal kerjanya, atau dia sibuk pacaran, atau malah mungkin dia ga bekerja. Nah ga masalah gaji tinggi, karena salah memilih tim itu adalah risiko yang cukup fatal.
Interviewer : Jadi kemarin itu anda ada berapa orang satu tim?
Informant : Berempat. 5 juta, 5 juta, 5 juta, 5 juta, jadilah satu gerobak. Sudah punya gerobak, tapi hitungan keuangannya salah, jadinya berantakan.
Interviewer : Kalau risiko dalam opportunity?
Informant : Kalau di bidang kuliner begini biasanya ada 2, yang sustain atau yang tren. Kalau kita tuh banyak nyari yang tren, jual es kepal Milo, paling cuma berapa minggu and then it’s gone. Dari situ kita sebagai businessman harus belajar sih, jangan selalu ngikutin tren tapi lebih cari demand, market perlu apa kita kasih. Risknya opportunity itu lebih ke gimana kalau bikin one shot business itu menguntungkan, tapi kalau untuk sustain bisa di-scale.
Interviewer : Bagaimana dengan resource? Contohnya kalau buka cabang kan itu sewa tempat baru, kemudian misalnya beli alat, kenapa tidak beli penggorengan yang lebih mahal?
Informant : Ohh okay okay. Kalau masalah resource tuh lebih ke optimizing, risiko biasanya kalau kita ga puya standar yang bagus. Jadi ketika kita punya resourcenya, kita ga tahu kita mau gunakan ke mana. Misalnya kita lebih suka beli yang sedikit murah, tapi tidak optimal. Kenapa tidak beli yang lebih mahal, tapi garansi lebih bagus, lebih tahan banting. Nah biasanya hal itu yang kadang businessman suka lupa. Kenapa? Karena kita tergiur sama murahnya aja kan. Makanya harus cek and recheck sama data sekitar yang akan dipakai. Misalnya kita mau sewa tempat, kita cek dulu nih areanya gimana sebelum kita masuk lebih dalam lagi untuk sewa dalam jangka waktu lama, jadi setidaknya kita bisa meminimalisir risiko dengan gampang.
Interviewer : Apa risiko-risiko yang dipikirkan saat mau buka cabang?
Informant : Risikonya tuh yang pasti ga laku, makanan kan gitu.. ga cocok sama market atau apalah. Pernah juga salah buka, in the end cuman 2 minggu tutup. Salahnya apa? Karena kita ga research and development dulu buat daerah situ. Dari situ belajar, buat meminimalisir risiko-risiko kayak tadi ya kamu cek dulu tempatnya, KPI (Key Performance Indicator) apa aja sih yang lu harus ada. Misalnya saya kan segmentnya student. Studentnya ada atau ga. Atau ga family, family ada ga? Masih bisa ga harganya, masih kena ga. Nah dari situ bisa belajar.
Interviewer : Itu di mana ya yang tutup padahal baru jalan 2 minggu?
Informant : Cabang saya yang ke-2 di dekat Maranatha. Itu 2 minggu pindah, pindah ke UNPAR. UNPAR rame! Jadi waktu itu saya di UNPAR ada 3 cabang. Tapi sekarang itu sudah tutup, terus pindah.
Interviewer : Kenapa pindah? Padahal kan rame di situ.
Informant : Tempat tidak hiegenis, mending pindah. Terus dulu uangnya habis, padahal salesnya mantap. Productionnya uncontrollable; marinasi, ayam, gramnya itu ga beraturan. Makanya begitu standarnya sudah oke, yang saya selalu tekanin ke franchiser, ga akan ada problem.
Interviewer : Jadi waktu itu belum bisa mengolah resource dengan baik?
Informant : Betul. Dan baru berasa kebodohan itu pas cabang udah 5. Udah 5 cabangnya, tutup semua.
Interviewer : Waktu itu anda tahu masalahnya kenapa bisa cepat habis duit?
Informant : Tahu, permasalahannya ke tim. Karena saya dulu bukan bagian manajemen, saya cuma pegang design. Sekarang saya manajemennya full, design saya lempar ke orang lain. Termasuk proposal-proposal itu dikerjakan orang design.
Interviewer : CC berarti total cabangnya sekarang berapa?
Informant : 5 sekarang. Yang punya saya sendiri cuman satu, yang di Naripan. Selebihnya franchise.
Interviewer : Franchisenya putus gitu ya?
Informant : Beli bumbu aja kalau yang jauh. Kalau yang dekat, kayak Nangor, Naripan pengen saya akusisi lagi aja.. biar uangnya kerasa. Jadi tahun ini saya baru 5 cabang, sebenarnya bisa 10 sih.. cuma belum tahu. Pengennya diakuisisi Upnormal. Sebenarnya ada beberapa opsi yang saya pilih. Salim Group, Upnormal, sama Bekraf.  Akhir Juli saya ke Bekraf, ke Surabaya. Salim Group belum saya kontak, kalau Upnormal ini jadinya kayak Ayam Bersih Berkah, banyak kan cabangnya.
Interviewer : Berarti kalau diakuisisi begitu udah ga ada kerjaan lagi dong?
Informant : Ada, tapi beda aja. Mungkin di branding dan marketing. Ya sebenarnya ini perlu dinegosiasikan lagi, karena saya bisa scaling kan dan retail tujuannya. Kalau akuisisi itu kan bukan masalah kamu dibeli jadi gede kan, tapi habis itu kamu mau ngapain. Makanya saya tertarik untuk ke retail, bikin pabrik, dsb. Dan Salim sepertinya punya infranya di bidang itu.
Interviewer : Kalau ke Bekraf itu ngapain aja?
Informant : Pameran, presentasi, kalau juara 1, 2, 3 dapat dana. Kalau ada dana mau buka cabang di Jakarta.
Interviewer : Kayak begini kan opportunity juga, harus pilih antara 3 itu, lalu bagaimana?
Informant : Sikat tiga-tiganya. Kenapa harus milih?
Interviewer : Hehe oke. Ohiya berarti CC itu sudah anda bumbuin sendiri ya, baru kasih ke cabang-cabang anda?
Informant : Iya, jadi orang lain yang kelola, tapi standar dari saya.
Interviewer : Terus biar resepnya ga bocor ke pengelola di cabang tersebut bagaimana?
Informant : Saya kasih KPI, ada standarnya. Makanya saya berani buka retail, yaitu jualan tepung. Tapi itu masih plan, saya masih ngumpulin tim dulu. Karena saya mau lari lebih cepat sebetulnya, punya tim itu membuatmu lebih besar, karena banyak orang. Ya tapi mending sendiri daripada kamu bekerja dengan orang bodoh. Tapi lebih seru lagi kamu bekerja sama orang pintar. Cobain deh kamu kerja sama orang profesional, beresnya cepat.. dan ga baperan, karena mereka pro. Ini teman saya mau nelpon saya ngurusin uangnya dia, dia mau re-financing. Dia kenapa nelpon saya? Karena saya jago menghitung, cara memutarkan uang, mengelola pajak secara legal. Kamu harus rajin membaca. Kenapa bos, lebih gede tunjangannya daripada gajinya? Karena yang kena pajak itu gaji, bukan tunjangan. Baca aja undang-undang di internet kek, atau punya teman-teman orang pintar gitu, ngebahasnya bukan kamu kawin kapan, tapi ngebahas ini uang bisa diapain aja.
Interviewer : Dalam pembuatan KPI itu, anda sendiri yang bikin?
Informant : Iya saya sendiri yang bikin, berdasarkan method. Digramasi, semua-muanya sampai garam pun digramasi. Sampe saus juga digram. Saya bikin sistem. Mau bapak saya, emak saya, dedek saya, mau siapapun juga bisa.. bikin hal yang sama.
Interviewer : Anda ga takut resepnya hilang?
Informant : Bukan masalah resep. Yang kita pegang bukan bumbunya, tapi tepungnya. Kamu pasti punya key ingredients kan? Itu dia. Saya ga masalah, kamu saya kasih resep saya, kamu bisa tandingin saya dalam hal manajemen? Belum tentu kan. Banyak ga yang tahu resep KFC?
Interviewer : Banyak.
Informant : Ada ga KFC KW (tiruan)? Texas Chicken. Texas bisa ga lawan KFC? Engga kan. Yasudah ngapain kamu repot? Karena kan itu larger scale. Cuma mindsetnya kamu ga bisa fokus di produk, tetapi bagaimana kamu jual produknya. Itu ngefek ke semua. Businessman meminimalisir risiko sih sebenarnya. Dengan memilih tim yang benar, kamu meminimalisir kebodohan-kebodohan yang kayak tadi. Kamu punya standar, maka resource kamu well spent. Opportunity, kalau kamu punya data yang bagus, kamu bisa dapat opportunity yang bagus. Otomatis risiko kamu malah hampir ga ada. Kalaupun harus ngecek, setidaknya risiko kamu di uang di awal doang, ngecek, habis itu sudah ga usah.
Interviewer : Ohiya? Sekarang anda bagaimana menghindari terjadinya risiko-risiko?
Informant : Sekarang saya begitu. Kalau ada yang mau nukar tempat nih, di Antapani. Saya minta duit dulu 5 juta buat research, nanti saya kasih laporannya. Kalau kamu mau, kamu bayar sisanya. Kalau kamu ga mau, ya udah hangus, uang research doang.
Interviewer : Jadi dia memberikan anda 5 juta untuk research?
Informant : Iya. Hasilnya macam-macam. Saya outsouce bisa, pakai apa-apa bisa.
Interviewer : Kalau marketing channel CC tuh apa aja?
Informant : Offline. Kamu makan, rasanya enak, kamu beli lagi ga?
Interviewer : Iya, tapi kan orangnya itu-itu doang? Maksudnya bagaimana mempromosikan ke orang-orang yang belum ke-reach oleh CC?
Informant : Kalau dulu kan metodenya masih serampangan, kalau sekarang market productnya udah jelas nih, ayam tepung dan nasi. Cuma satu doang, beda flavor kan. Nah dari situ, saya baru mau expand, baca data lagi, yang di Naripan. Karena yang saya sudah template adalah yang di kampus, yang sekolahan, itu mah sudah tahulah kayak apa dan gimana, dari pricenya, dsb. Oke, lalu risiko apa lagi yang ingin ditanyakan?
Interviewer : Anda bilang bahan-bahan makanan jangan sampai yang murah tapi jelek kualitasnya. Kan cabang banyak nih, dari beda-beda dong suppliernya?
Informant : Iya. Tapi kan ada standarnya. Ayam, ya ayam masa beda sih.
Interviewer : Tapi kan tiap pasar beda-beda loh harganya.
Informant : Saya netapin standar, plafonnya ga boleh lebih dari segini. Pasti ada.. cari sampai dapat, kalau ga ntar adjust sama harga. Kalau udah punya frameworknya, geser dikit ga masalah, tinggal adjust, adjust, adjust.
Interviewer : Yang penting itu sistem, iya bukan?
Informant : Ga, kalau mau kamu yang dagang gapapa, kamu yang jualan, kamu ga perlu sistem. Cuman kalau kamu ga mau repot? Kayak saya sekarang pengen tidur siang, ya bikin sistem.
Interviewer : Berarti kita harus bersusah-susah mikirin sistem dulu kan?
Informant : Iya.
Interviewer : Motto hidup anda apa?
Informant : Cuan (untung / uang). Kamu ke rumah sakit bayar pake apa? Uang. Sekarang mah gampang, “aduh pengen macbook nih.. Beli jangan ya?” “Jangan deh..” Puterin lagi duitnya. Kemarin ada yang nawarin ke Jepang 15 juta. Aduh udah lama ga liburan, udah menderita demi CC. Aduh enak banget nih, tapi 15 juta boros kan budgetnya.
Interviewer : Akhirnya?
Informant : Demi cuan lebih banyak! Tidak ke Jepang. Buka cabang di Naripan deh jadinya. Buka Naripan, bikin kantor, kiri-kanan sewain. Uang lebih banyak! Sebulan bisa langsung ke Jepang lagi kalau cair semua. Disewakan buat office doang, kalau makanan exposenya susah.. cuma beberapa doang.
Interviewer : Boleh anda ceritakan pengalaman gagal gara-gara tim?
Informant : Itu paling fatal. Karena salah judgement orang. Merasa menganggap satu komunitas, itu lebih bisa bekerja, ternyata tidak. Lebih bodoh daripada yang tidak sekomunitas. Nah judgement-judgement itu yang tadi balik lagi ke standar kamu. Harusnya kayak apa, pengennya kayak apa, bilang di awal, deal dengan dia, hitam di atas putih, baru go.
Interviewer : Berarti tiap mau me-recruit team begitu? Komunikasikan dengan jelas, lalu hitam di atas putih?
Informant : Iya betul. Kepake kan hitam di atas putih? Jadi saat anggota tim bikin salah, kamu bisa tegur. Atau saat kamu salah, timmu bisa tegur. At least yang tegur masih orang internal. Daripada customer kamu yang bilang, “ini ga enak!” terus kamu lempar-lempar kesalahan di tim. Biar fair, harus ada hitam di atas putih, karena harus sesuai job desk.
Interviewer : Di saat dia udah melenceng?
Informant : Hitam di atas putih. Kamu melenceng, kamu exit atau kamu saya pecat? Atau ga dia balik lagi. Kembali ke jalan yang benar.
Interviewer : Tapi pernah kejadian dia out?
Informant : Saya bisa panggilkan teman saya yang kayak gitu. Saya pernah bilang ke teman saya.. “orang ini cancer”. Maksudnya saya bisa lihat orang. Orang ini bakal pintar atau bakal bodoh, atau dia bakal mem-backstab kamu. Bukannya hal magis, tapi itu scientific.
Interviewer : Bisa lihat dari awal kerjasama sama dia?
Informant : Saya main ke kantornya teman saya, saya lihat orang-orang di kantor dia.. saya ajak ngobrol. Ini orang bakal loyal banget sama kamu sampai mati atau orang ini bakal mem-backstab kamu, bikin cancer di perusahaan kamu. Terus saya bilang, “kamu hitam di atas putih aja semuanya sama founder-founder kamu.” Begitu hitam di atas putih, ga lama, 2 bulan, dia nelpon saya. “Bener nih.. apa yang kamu omongin.” Orangnya ngaco, tapi apa? Ada hitam di atas putih. Exit. Enaknya kamu bisa immediate response. Sebelum orang itu cancer satu ruangan, kamu bias cut cancernya. Sehingga ga terjadi apa2.
Interviewer : Kalau sekarang, ada risiko yang sedang anda pikirkan?
Informant : Risiko sales tidak optimal. Miss sales. Susahnya di situ. Karena belajar marketing yang optimal itu baru sih bagi saya. Baca data analytic berhubungan ke teknologi makanan itu baru belajar saya. Telepon orang yang jago marketing suruh ajarin saya, baru otodidak.
Interviewer : Berarti anda memang banyak belajar dari teman-teman yang punya skill tertentu ya?
Informant : Yang utama person, dari situ saya tahu dulu basicnya. Tahu ini bagusnya dari mana, baru dari situ saya develop sendiri. Makanya saya butuh personnya. Saya tahu metode ini dia tidak bohong.
Interviewer : Mendingan yang kayak gitu dari teman atau yang kita bayar orang profesional?
Informant : Kombinasi aja. Businessman ga harus bisa jago kok, asal tahu doang. Yang penting apa? Logika berpikir sebenarnya. Yang penting step by step. Jangan gegabah, cari yang optimal. Semua itu ada metode sebenarnya. Cuman kan metode itu membantu orang supaya berpikir. Kalau kamu bisa berpikir sendiri tanpa metode ya kenapa engga, yang penting kan resultnya sama. Saya perlu metode supaya terstruktur kinerja saya. Biar ga terlalu liar. Kalau sekarang saya lagi liar, semua sikat! Dar der dor!
Interviewer : Jadi lagi membenahi bisnis juga sambil belajar?
Informant : Iya. Karena buat saya siklusnya sama. Growth, corenya harus benar, growth lagi, corenya harus benar. Karena apa? Begitu kamu growth dan corenya tidak benar, kamu pecah. Sekarang saya beli bahan supply aja udah di angkat 10 juta per bulan. Repeat order, masuk bolak-balik.
Interviewer : Buat semua cabang CC?
Informant : Iya untuk semua. Karena sudah fokus di rumah saya kan sebagai central kitchen. Itu udah keluar uangnya segitu sebulan. Dari yang awalnya cuma 1 juta sebulan. Besarin, cek lagi, besarin, cek lagi. Jadi bertahap.. ga bisa instan. Yah.. walaupun hasilnya ga se-edan yang lain, tapi setidaknya otak saya tidak bodoh-bodoh lah.
Interviewer : Kalau CC yang di Naripan itu kan punya anda, itu tim anda ada berapa orang?
Informant : Saya merekrut beberapa orang ITB, ada Ilham, dan ada Adit yang S3. Kemudian untuk tim operasional juga ada, beda lagi, saya nambah lagi.. Memang yang ngurusin di sana banyak, karena termasuk kantor design saya juga.
Interviewer : Kenapa anda merekrut Kak Ilham?
Informant : Karena butuh, dan Ilham orangnya executor. Dan dia fast response. Kalau buat saya itu penting. Saya ga bisa yang nunggu chat lama. Makanya buat saya, gampang mensortir orang. Orang yang cepet balas pasti di prioritasnya saya.
Interviewer : Berarti saat memilih tim sudah ada kriterianya?
Informant : Iya betul. Karena bagi saya yang penting fast response. Kamu agak bodoh tidak apa-apa, bisa saya ajarin. Karena kalau ada something kejadian, dia bisa lapor saya, kita bisa take action cepet, mungkin dengan beberapa chat selesai. Daripada dia chat, saya ga balas, lama, dia nunggu, problem ga solved. Menurut saya communication harus seperti itu. Saya punya tim design, semua fast response, ke client semua cepat. Bayarnya cepat, kerjaan beres cepat, KPI bagus, harga bisa mahal, kenapa tidak. Design konten juga begitu.. “Ini konten buat sebulan, kapan selesai?” “Yah.. 3 minggulah.” “1 minggu saya perlu semua, bisa ga?” “Ga bisa.” “Bisa, kerjain.” Seminggu kelar. Habis itu karyawan itu bebas mau ngapain.. cuma stress kali hehe. Tapi saya bilang gini.., saya sediakan kamu kantor, masuk jam 8, pulang bebas. Kamu kerjain dulu di kantor, jam 4 jam 3 mau nonton, sok aja. Besok kerjain lagi tetep. Jadinya disiplin.. ada standar. Supaya kamu refereshing, lalu kerja. Capek bergaul dengan orang bodoh. Saya orangnya tegaan. Buang orang kalau dia ga kepake. Ngapain saya bergaul kalau dia tidak ada benefit, hanya capek-capekin saya. Saya benar-benar memilih orang. Ini orang bodoh, tidak memberi kontribusi, tapi baik, centang.
Interviewer : Hitung-hitungan banget ya? Berarti suka mensortir orang ya.
Informant : Iya dong. Kita harus mencari yang pintar. Kita jangan minder. Opsinya cuma 2, kita belum tahu dan mau berkembang atau tidak. Setidaknya kita tahu apa yang kita omongin. Soalnya saya juga merasa bodoh sekali saat CC punya 5 cabang dan tutup semua. Bayangkan.. “saya masa kayak gini doang ga bisa.” Benci bangat kan jadinya. Tadinya mau saya jual CCnya. Udah ada yang nawar 50 juta buat semua resep segala macam. Saya pikir, “Ntar saya jual 500 juta lebih.. Saya bangkitin lagi semuanya baru saya exit.” Tadinya udah mau jual, terus saya rencana kerja aja ke Jakarta.
Interviewer : Mau bangkit lagi begitu karena lihat hal positif yang ada?
Informant : Ga ada, semua negatif buat saya. Kalau saya pernah benci orang sampai benci banget. Nah di situ titik balik saya. Saya harus jadi brilliant banget mengerjakan ini semua. Yaudah belajar segala macam, bikin sistem buat bagus.. kerjain semuanya. Dari situ, milih orang, milih orang. Ya udah sampai sekarang kayak gitu habitnya. Dan saya ga mau balik lagi kayak dulu, ditanya apa-apa ga tahu, presentasi ga bisa.
Interviewer : Ohh begitu ya, yang penting ada keinginan untuk belajar.
Informant : Iya sangat penting untuk mengakui bahwa dirimu masih bodoh, alias harus terus belajar. Sebenarnya 4 roda posisi dalam bisnis yang penting itu harus jalan, CEO atau kepala, kemudian finance, marketing, dan operation. CEO job desknya business development, targetnya buka cabang. Cari opportunity, fundraising, makes everything works. Karena kamu rangkap operasional, tapi secara macro aja, kamu tahu jualannya, tahu how it works, dan tahu cara men-duplicate itu. Finance itu mengelola uang, rangkap dengan stock control. Kalau marketing itu ada tujuannya sendiri juga.
Interviewer : Meningkatkan sales?
Informant : Bukan, itu orang sales. Kalau marketing itu strateginya. Sales adalah konversinya. Marketing itu ngaruh ke branding, tapi sales tidak peduli branding. Customer butuh makanan yang enak kan agar mereka mau beli. Makanya harus benar standarnya di tim masak. Makanya semua itu berhubungan.
Interviewer : Untuk membuat KPI apakah anda sendiri yang buat?
Informant : Iya, semua saya yang kerjakan sendiri karena dulu saya sendiri. Tapi yang susahnya adalah untuk mentransfer ke orang-orang baru. Kesulitan saya adalah, saya itu orang thinker, tapi begitu mendelegasikannya itu susah. Saya komunikasi sama designer saya aja susah, harus saya telpon, jelasin, telpon, gambain sketchnya, sejelas-jelasnya. Tapi begitu udah jelas, cepat.
Interviewer : Jadi yang finance, marketing, HR, operation itu lebih ke fungsional, sementara CEO itu mengurus corporate?
Informant : Sebenarnya itu hanya job desk. Jadi CEO harus fokus misalnya ke fundraising, dia harus fokus gimana cari uang lagi, cari investor misalnya. Sementara timnya harus tetap memberi masukan di sampingnya, mensupport. “Ini ada opportunity ini nih, gimana?” Jadi ga ada yang di bawah kalau tim.
Interviewer : Terkait opportunity saat mau buka cabang, kan banyak risiko sebelum membuat keputusan, lalu apa yang anda lakukan?
Informant : Buka cabang baru butuh modal ga? Nah itu harus dihitung. CEO harus ngitung ini visible ga, possible ga. “Oh ini bisa?” Sikat.. eksekusi. “Ini ada opportunity bagus, bukan di ayam, tapi di subsidiarynya.” Sikat. “Ada catering.” Sikat. Fokusnya adalah cari uang.
Interviewer : Pernah ikut event ga? Jualan di event-event?
Informant : Pernah saya.. lakunya laku mampus.
Interviewer : Pernah yang ga laku ga? Yang rugi..?
Informant : Pernah juga!
Interviewer : Bedainnya gimana? Kurang research apa gimana?
Informant : Kurang research. Karena dulu saya anak design. Kalau sekarang saya udah ga mau kayak gitu.
Interviewer : Bagaimana caranya anda membuat team bonding yang benar?
Informant : Punya visi yang sama kan, gampang. Setelah itu, ya uang menurut saya. Punya opportunity yang sama itu cukup bonding. Kalau kamu punya ambisi yang sama, kenapa tidak. Karakter semua orang pasti berbeda, cuman yang bakal nyatuin itu pasti ada benefitnya. Kenapa saya dengan teman saya masih bergaul? Karena saya butuh marketing, dia butuh finance.
Interviewer : Berarti karena dia punya skill yang memang dibutuhkan ya?
Informant : Saya butuh dia, dia butuh saya. Kamu boleh tanya tim saya, semua cuma satu goalnya yaitu uang. Dalam bekerjasama dengan orang lain juga begitu, saya masih kecil, dia masih kecil, kita salling supportlah. Keep your enemy close. Begitu kita sudah gede bisnisnya, saling tarik. Yaudah, dia dapat duit, saya udah dapat duit. Makanya kalau saya “stick together, kill the other.”
Interviewer : Punya idealisme dalam design? Apakah puas dengan hasil kerjaan tim design anda?
Informant : Design CC semua harus bagus. Ada designer khusus ngerjain konten CC. Cuman kenapa suka mandek, karena dari sayanya mandek. Di otak saya pengennya apa, tidak bisa saya deliver. Jadi si designernya pun bingung.
Interviewer : Loh anda bagian apa? Marketing? Emangnya anda pegang operation, finance juga? Semua dong?
Informant : Iya habisnya mau gimana. Belum ada orang lagi.. dan saya mencari orang tidak segampang itu, agak ribet saya. Saya memang cukup hustle (gesit, giat bekerja) orangnya.
Interviewer : Mungkin karena anda memang workaholic dan memang punya passion di kuliner jadi lebih mudah untuk hustling?
Informant : Ga, passion saya bukan di makanan, passion saya di tech. Cuman buat saya, apapun yang ada di tangan saya harus jadi emas. Tidak usah sok-sok passion, kalau kamu ga bisa bayar tunggakan listrik percuma. Cari opportunity, cari supply, demand, duit.
Interviewer : Berarti kalau kayak pas di kantor mikirin mau buka cabang baru, itu anda yang nyari opportunitynya? Bukan nunggu sampai teman atau orang lain ajak atau nawarin?
Informant : Ga bakal.. lama banget pasti.
Interviewer : Berarti memang ga akan puas dengan cuman 5 cabang segini, harus move move move?
Informant : Kalau saya dapat investment 2 milyar, yang saya bikin 10 cabang immediately, dan office, dan rekrut karyawan.
Interviewer : Yang mana yang anda dahulukan? Produk bagus dulu atau marketingnya?
Informant : Kalau bisnis makanan, fase kamu apa? Kalau fase masih awal-awal, berapa orang sih yang coba makanan kamu? Masih bisa kamu ganti ga? Atau ga kamu cari market. “Market dulu atau produk dulu?” Kalau saya sih pasti market dulu. Karena begitu kamu punya marketnya, kamu lempar apapun, pasti dia nyambung. Kalau produk kamu mirip-mirip (masih serupa). Jadi, ada ga marketnya, bisa masuk ga nih.. barriers to entrynya bagus ga nih. Masih oke ga nih customer acquisitionnya? Sikat. Makanan jangan takut buat ganti. Jangan terlalu fokus pada produk, tapi lebih pikirkan strateginya.
Interviewer : Kalau sudah ada kompetitor yang dominan di segment tersebut, jadi follower atau beralih ke yang lain?
Informant : Sedominan apa? Kalau kamu cuma kompetitor ke-2, gedein. GO-JEK aja masih ada Grab kok, kenapa tidak. Karena masih ada market yang bisa direach.
Interviewer : Kenapa memilih ayam goreng filet crispy menunya? Tidak seafood, atau beef mungkin.
Informant : Karena ayam goreng tepung itu termasuk dari 9 bahan pokok yang primer menjadi bahan makanan di Indonesia.
Interviewer : Oke, kalau yang tadi, misalnya kan sudah ada strong player dengan bisnis serupa, dari segi marketing kan perception customers terhadap brand tersebut sudah terlanjur gede banget. Itu bagaiman anda mengatasinya?
Informant : Kamu bisa pakai leverage brand yang udah gede. Orang udah tahu produknya berarti kan. Tapi kamu bukan top of my mind. Bagaimana kamu bisa ambil market yang dia tidak sentuh. Jadi tetap ada differentiation, simple, yang penting dieksekusikan dengan baik.
Interviewer : CC apa artinya?
Informant : Pemula (beginner) dalam Bahasa Korea. Karena saya dulu adalah pemula dan dulu sedang tren Korea. Saya ikutin trend dulu, branding dari warna segala macam saya yang pegang.
Interviewer : Kenapa harus di box?
Informant : Karena pada waktu itu box belum ada yang punya, dan saya top of mind. Cuman salahnya, hilang karena saya tidak jualan aja saat itu.
Interviewer : KFC juga punya rice box?
Informant : Tapi dia tidak masuk pameran kan. Saya di pameran, semua orang pegang kotak merah ini.
Interviewer : Untuk packaging di Unpar juga tetap pake box?
Informant : Pake box putih. Karena harganya mahal jatuhnya, dan mereka butuh yang efisien kan. Saya pengennya ada yang sponsor sih, jadi saya bisa tekan harga, jadi mereka bisa pake yang merah. Sekarang pun mau saya ganti, bagus yang kotak atau yang ceper. Kalau kotak itu kelihatan penuh tapi kelihatan kecil karena dia ke atas. Kalau yang ceper, orang lihatnya kayak lebih banyak, padahal porsinya sama. Saya sekarang lagi cari data aja. Sampai seyakin apa, saya eksekusi.
Interviewer : Tapi udah coba keluarin makanan pakai yang ceper?
Informant : Udah.. banyak banget yang pakai CC saya. Penuh.. penuh banget. “Porsinya kebanyakan.” Nah jadi kayak gitu.
Interviewer : Kenapa ayamnya tidak dipadukan dengan sambal, kayak sambal matah mungkin? Hanya saus-saus saja?
Informant : Saya ada value proposition sendiri. Kalau kamu jalan-jalan ke tempat baru, apa sih yang kamu cari? Pasti makanan. “Makanan yang enak apa sih?” Nah sama. CC bakal saya labelin seperti itu. Bukan makanan Bandung, tapi makanan Indonesia. Di mana kalau turis datang ke Indonesia, yang dia cari adalah CC. Kenapa? Karena di CC kamu bisa ngerasain berbagai taste dari berbagai macam daerah di Indonesia. Jadi CC ini nanti jadi makanan yang ngereach duta pariwisata. Ini sudah lolos Bekraf.
Interviewer : Berarti kalau begitu rasanya di bubuk ya?
Informant : Engga, di saus. Kenapa saus? Mungkin rasanya bisa macam-macam. Cuman yang pasti, value ke-2 yang bakal saya tekenin adalah simplicity. Kalau orang luar atau bule makan, kadang tidak mau yang ribet. Makanan yang membawa budaya dengan sederhana, itulah value propositionnya.
Interviewer : Sekarang kan masih saus Korea ya, berarti nanti mau saus padang, saus rica-rica?
Informant : Betul, cuman saya kayaknya tidak sampai sambal matah deh. I try to avoid spicy food. Karena itu termasuk niche. Spicy itu bukan termasuk taste. Menurut saya pedas itu sensasi saja, bukan type of flavor.
Interviewer : Untuk mengedukasi karyawan itu sulit tidak? berapa lama tuh trainingnya?
Informant : Kalau karyawan yang memang bukan lulusan SMP dan SMA itu lama.. setahun. Sebenarnya tidak sulit kalau tahu tricknya. Karyawan itu punya budaya kerja, kalau budaya kerjamu bagus, orang yang kamu latih punya standar kerja yang jelas, masuk ke budaya kerja kamu, menjadi lebih bagus.
Interviewer : Budaya kerja seperti apa?
Informant : Pernah dengar ga, “kebiasaan yang buruk dapat merusak kebiasaan yang baik?” Nah itu berlaku. Kalau standar kamu ‘3’, karyawan itu masuk ke kantor kamu jadi ‘5’, nah itu berhasil. Jadi kalau standar kamu ‘5’, kamu expect karyawan itu untuk kerja ‘7’, ya itu salah kamu. Kenapa rekrut dia. Jadi kalau punya karyawan yang tidak kompeten, yang malas, itu dapat merusak kinerja tim. Salah rekrut itu bisa terjadi kalau kamu tidak ada standar.
Interviewer : Baik, sepertinya sudah cukup interviewnya. Saya jadi banyak belajar juga dari anda. Terima kasih banyak.
Informant : Iya sama-sama. Yang penting harus ambisi aja.. semangat.


Banyak sekali pelajaran yang di dapat dari Kak Aldy, pesannya adalah jadi manusia itu harus pintar,dalam artian mampu untuk terus belajar dan meningkatkan kapabilitas diri. Kak Aldy mengadopsi konsep salah satu makanan cemilan ayam dengan tambahan nasi dan toping bumbu yang berbeda ,beliau berencana berinovasi di saus, yaitu ingin melibatkan seluruh rasa saus atau sambal di nusantara. Misalnya Ayam CC saus Padang. Setelah wawancara tersebut saya menyadari jika manusia tidak akan pernah berhenti untuk makan. Makan merupakan aktivitas yang akan terus berlangsung. Munculah keinginan untuk berwirausaha di bidang kuliner. Saya mempunyai ide untuk membuat katering khusus mahasiswa dengan konsep low budget. Katering ini akan memenuhi kebutuhan mahasiswa,misalkan rapat himpunan, dengan harga terjangkau, dan target market tepat saya rasa katering ini bisa stable dan menjadi katering pioner yang memusatkan perhatian dan target market nya mahasiswa. Menu-menu yang akan di sajikan akan di buat seberagam mungkin dan seusai dengan konsep low budget.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

RICEBOX

Bisnis makanan merupakan salah satu bisnis yang cukup populer dan berkembang pesat khususnya di Bandung, sebagai kota kreatif dan kuliner. Berdasarkan data yang didapat, produksi makanan tahun 2014 naik sebesar 9% jika dibanding tahun lalu pada periode yang sama. Alih-alih menjadi pengikut persaingan yang sudah ada, Ricebox menciptakan konsep yang baru dengan on-the-go food. (Susiana Wijaya, 2015) Dibawah ini merupakan analisa dari hirarki produk ricebox: 1. Core Benefit,  manfaat yang sebenarnya dibutuhkan oleh konsumen dalam membeli ricebox adalah "enak dan kenyang". 2. Basic Product,  produk dasar dari ricebox untuk memenuhi kebutuhan konsumen adalah satu porsi nasi dengan lauk pauk seperti ayam dan lainnya dengan ukuran porsi yang mengenyangkan. 3. Expected Product,  produk formal yang ditawarkan dan atau diharapkan konsumen dalam membeli ricebox diantaranya porsi yang sesuai dan cukup, nasi dipadukan lauk seperti ayam, ikan dori, udang d...