Selain dengan produk ricebox CC, kami juga mewawancarai pemilik Ayam Geprek di Jl. Tengku Angkasa, Dipatiukur, Bandung yang akan kita sebut selanjutnya sebagai AGB.
Profil Narasumber:
Nama: Zakka Ksatria Raharjo
Usia: 27 Tahun
Produk: AGB
Waktu wawancara: Selasa
Durasi: 60 Menit
Interviewer :
Namanya dengan Aa siapa?
Informant : Zakka Ksatria Raharjo
Interviewer : Sekarang umur berapa?
Informant : Umur 27 tahun
Interviewer : Asli orang Bandung?
Informant : Saya dari Serang, Banten.
Interviewer : Kalau boleh tahu background
pendidikan terakhir anda?
Informant : S1 Komunikasi
Interviewer : Menjalankan
usaha AGB ini sudah berapa lama? Geprek Bebas berdirinya dari
tahun berapa ya?
Informant : 28 Juli 2016
Interviewer : Boleh cerita
sedikit tentang Geprek Bebas? Kenapa bisa kepikiran mendirikan Geprek Bebas?
Informant : AGB ini adalah geprek pertama di Bandung,
sebelum geprek nge-hits.
Interviewer : Ini
yang pertama atau di mana?
Informant : Ini yang pertama (Jalan Tengku Angkasa), ke-2 di
Jatinangor, ke-3 di Kopo.
Interviewer :
Berarti totalnya ada 3 cabang ya?
Informant : Sebentar lagi saya buka cabang ke-4, di Gegerkalong.
Interviewer : Boleh
cerita sedikit ga A? Awalnya kenapa bisa bikin ayam geprek ini?
Informant : Pertama, dulu saya lagi bangkrut. Sebelumnya saya usaha
kuliner juga cuman seafood, lebih ke lobster. Cuman bangkrutlah di situ.
Akhirnya dari situ, saya pikir saya pengen usaha lagi. Tapi saat itu saya lagi
tidak punya uang. Ada uang sedikit sisa over contract dari bisnis sebelumnya.
Saya hilang uang lumayan besarlah ratusan juta.
Interviewer : Tapi
itu sendiri atau bertim?
Informant : Sebelumnya bertim. Partnerlah. Cuman saya 90%. Bertiga,
saya 90, sisanya 5-5. Tapi mungkin salah langkah, saya bangkrut. Sisa uang
modal usaha-usaha sebelumnya dihabiskan di usaha seafood itu, dan hanya
menyisakan uang sedikit. Jadi dari situ, saya pikir.. mau buka kuliner apa lagi
ya? Dari situ saya pikir, cobalah dengan menu yang harian, terus yang bahan
bakunya mudah dicari, jadinya ke ayam. Kan itu udah kayak makanan pokok. Di
Bandung apa sih yang belum ada? Ayam geprek.
Interviewer :
Idenya ayam geprek itu dari mana?
Informant : Sebenarnya dari Jogja. Dulu kan saya sering main ke Jogja.
Di Jogja ada banyak. Di situ saya lihat-lihat segala macam. Tapi saya pengen
bikin sesuatu yang beda, tidak seperti yang sama kayak di Jogja.
Interviewer : Jadi
ayam gepreknya beda?
Informant : Beda. Saya cari inovasilah dibanding yang di Jogja. Sampai
sekarang menjadi Geprek Bebas. Kurang lebih seperti itulah ceritanya.
Interviewer : Tapi
resepnya tuh bikin sendiri?
Informant : Saya sendiri. Karena saya senang masak. Jadi sebelum bikin
usaha geprek ini, saya 6 bulan trial and error, coba R&D bikin tepung, dsb.
Interviewer : Tapi
yang kali ini sendirian tidak bertim?
Informant : Sendirian.
Interviewer :
Bedanya sama yang di Jogja itu apanya A?
Informant : Dari mulai potongan ayam, crispynya, sambelnya, complement
atau tambahan makanannya, dan rasanya beda.
Interviewer : Dan
itu Aa masak sendiri?
Informant : Masak sendiri. Kuliner itu harus bisa semua, minimal 90%
harus menguasai.
Interviewer : Terus
kenapa bisa yakin bahwa ini udah enak udah bisa buat bisnis? Atau validasi dulu
ke orang lain?
Informant : Validasi dulu pasti, terutama dulu ke calon istrilah yang
sekarang jadi istri saya. Terus ke temen-temen, ke keluarga. Akhirnya ya udah
karena responnya “enak, enak”. Saya cobain buka.
Interviewer :
Langsung di sini?
Informant : Ga di sini, di Jalan Teuku Umar, yang sekarang jadi Bebek
Ali. Dulu di situ.
Interviewer :
Responnya gimana tuh A?
Informant : Alhamdulillah. Ya maksudnya pertama kali buka tuh cuman 3
potong ayam. Tapi hari ke-2 tujuh potong, terus 11 potong. Jadi naik terus,
sampai sekarang.
Interviewer : Kalau
sekarang tuh berapa potong sehari?
Informant : Wah udah lebih dari 2,000 porsi.
Interviewer : Wow
di satu tempat?
Informant : Iya di tiap cabang.
Interviewer :
Paling ramai di sini A? Jatinangor gitu?
Informant : Iya di sini paling ramai. Jatinangor juga rame tapi tidak
serame di sini.
Interviewer : Jadi
saat ini sudah punya berapa pegawai kalau ditotal?
Informant : Di sini 36 orang, lalu di cabang satunya 22 orang, lalu
satunya lagi 8 orang berarti 66 orang totalnya.
Interviewer :
Apakah sudah dibagi-bagi timnya?Jadi ada yang urus marketing, dsb.?
Informant : Iya ada tiap divisi. Oh tapi kalau marketing masih saya
yang pegang. Di sini cuman ada divisi finance, dapur 1, dapur 2, minuman, terus
kebersihan, geprek, service/pelayanan, pemesanan, kasir, dan gudang.
Interviewer : Yang
22 orang karyawan di Kopo berarti?
Informant : 22 orang yang di Jatinangor. 8 orang di Kopo. Di Kopo masih
sedikit, tapi ya alhamdulillah ramai juga tapi ga serame di dua tempat itulah.
Cuman karena saya ada tanah punya orangtua, jadi buka usaha di situ.
Interviewer : Kalau
alat masaknya masih pakai yang kompor biasa atau udah yang penggorengan
canggih?
Informant : Masih kompor biasa. Penggorenan itu ga ada yang besar..
maksudnya kapasitasnya ga cukuplah untuk kapasitas kita. Jadi mesin
penggorengan itu terlalu kecil buat saya.
Interviewer : Jadi
lebih bagus pakai kompor biasa?
Informant : Iya lebih besar.
Interviewer :
Pernah memikirkan risikonya dulu kalau mau buka cabang?
Informant : Iya, risikonya adalah pertama, lingkungannya. Lingkungannya
menerima atau tidak. Kalau masalah pasar mah, insya Allah karena saya sudah
punya nama di sini, dan banyak mahasiswa yang tahu juga di Jatinangor, jadi
saya tidak terlalu mempermasalahkan. Beda kalau pas pertama kali buka usaha ini
ya. Kalau pertama kali buka, yang saya pikirkan adalah pelanggan atau pasar. Konsumen
itu ada atau tidak. Jadi kalau untuk buka cabang, pertama risiko lingkungan,
ke-2, kontrol. Maksudnya ketika saya agak jarang kontrol ke sana, risikonya
pasti ada. Masalah keuangan juga pasti ada risikonya. Paling itu sih.
Interviewer : A,
kalau buat kontrol itu tiap kapan?
Informant : Saya ke Jatinangor itu tiap hari kecuali Sabtu Minggu ya.
Pokoknya pagi ke Jatinangor, siang Kopo, sore ke sini.
Interviewer :
Berarti tadi dari Kopo?
Informant : Iya.
Interviewer : Kalau
yang dikontrol itu biasanya apanya tuh?
Informant : Kontrolnya satu, makanannya jelas, ke-2, tempat gepreknya,
ke-3 kebersihannya, ke-4 karyawannya, ke-5 stok atau bahan baku, sama terakhir,
keuangannya.
Interviewer : Kalau
stok ayam yang urus itu siapa?
Informant : Saya juga.
Interviewer :
Ohiya? Tidak ada divisi khusus?
Informant : Ga ada. Cuman, buat bagian yang pesen sih ada, cuman
keputusan ada di saya, saya yang menentukan berapa ayam yang dipesan.
Interviewer : Kalau
memilih-milih supplier gitu pernah ga?
Informant : Sering. Tapi sekarang sih sudah tetap. Yah dulu selama
setahun awal tuh saya gonta-ganti supplier.
Interviewer : Kalau
kayak di Jatinangor itu kan jauh, jadi beda lagi suppliernya?
Informant : Beda supplier. Tapi ada satu supplier yang sama. Supplier
yang sama adalah yang bahan bakunya bisa distok lama, maksudnya masa expirednya
panjang. Tapi kalau kayak sayur, tomat, ayam itu beda.
Interviewer : Tapi
udah ga beli di pasar lagi?
Informant : Ada yang beli dari pasar, cuman dikirim (delivery), ada
yang dari supplier langsung dari distributornya.
Interviewer : Aa
berencana bikin franchise gitu ga sih?
Informant : Tidak. Karena bagi saya franchise itu gila harta. Pengen
cepat dapat uang banyak.
Interviewer : Ohh
iya iya. Berarti pengennya diurus sendiri? Pengen ke seluruh Indonesia?
Informant : Ya ga seluruh Indonesia, minimalnya Bandung dulu.
Interviewer : Kalau
dalam tim, cara mengelola timnya bagaimana ya? Apakah di-briefing?
Informant : Biasa tiap 2 minggu sekali kita briefing. Saya yang mimpin.
Interviewer : Ada
manager tiap cabang?
Informant : Ga ada. Hanya.. ada orang yang dituakan. Manager sih engga.
Interviewer : Tapi
ada SOP yang jelas?
Informant : SOP yang jelas sih ada pasti. Standar untuk rasa segala
macam itu ada.
Interviewer : Yang
bikin menu Aa ini biar ga diduplikasi sama pegawai bagaimana?
Informant : Jadi saya racik sendiri takaran-takarannya. Tapi saya tetap
memberi ilmu kepada satu karyawan saya yang saya percaya. Kalaupun misalkan
nanti dia nyolong resep ya itu kan udah rezeki dia.
Interviewer :
Berarti pegawai kepercayaan itu benar-benar tahu semuanya?
Informant : Ada beberapa yang dia ga tahu juga.
Interviewer :
Pernah ada yang ajak kerjasama?
Informant : Banyak. Franchise juga kan, tim, mitra.
Interviewer :
Kenapa tidak mau mengambil kesempatan itu?
Informant : Karena saya tidak mau mengambil risiko. Jangan sampai
karena saya butuh uang, kontrol untuk kualitasnya itu saya nomor duakan. Saya
ga mau seperti itu. Karena franchise itu ketika kita udah dibeli sama orang,
kita untuk control dan in touch sama konsumen itu tidak bisa.
Interviewer : Kalau
marketing Aa bagaimana?
Informant : Kalau saya marketing tidak begitu maksimum ya. Kita
marketing hanya pas awal-awal buka saja. Kita iklan saja di info.bdg, yang satu
lagi di food blogger. Nah setelah itu, udah, kita ramenya dari omonganlah. Dari
mulut ke mulut, dari banyak yang review.
Interviewer :
Prosesnya berapa lama sampai bisa seramai ini?
Informant : Prosesnya setelah jalan 4 bulan, mulai nambah mulai nambah.
Interviewer : Buka
cabang ke-2 itu pas kapan?
Informant : Januari 2017 setelah saya menikah.
Interviewer :
Berarti selalu ada plan untuk ngembangin dan buka cabang lagi. Itu meeting sama
siapa atau sendiri aja?
Informant : Sendiri aja, atau diskusi sama istri.
Interviewer : Dalam
pemilihan tempat saat mau buka cabang itu yang dilihat apanya aja?
Informant : Pasar kami mahasiswa. Jadi pilih tempat yang deket kampus
dan gampang diakses.
Interviewer : Biasa
saat mau buka cabang, kesulitan apa sih yang Aa alami?
Informant : Kesulitannya kayak tadi, lingkungan. Tetangga yang ribet,
masyarakat ga terima, maksudnya harus ada uang ini uang itulah. Begituan pasti
ada.. apalagi di Jatinangor. Ada yang berkuasalah di sana. Jadi kalau saya mau
ngapa-ngapain itu selalu dipersulit. Karena mereka mau uang. Waktu saya mau
ngapain, harus ada uang.
Interviewer : Ada
kepikiran untuk buka bisnis yang lain selain geprek?
Informant : Pasti ada tunggu aja... tetap kuliner sih.
Interviewer : Ohh
berarti sambil R&D juga ya sekarang?
Informant : Iya.
Interviewer : Ohh
oke. Ohiya tapi yang mengurusi pegawai itu Aa atau ada yang urus?
Informant : Sampai sekarang masih sama saya sendiri. Nanti ke depannya
mungkin ada karyawan yang urus.
Interviewer : Kalau
pegawai rata-rata orang Bandung?
Informant : Campur. Ada yang Bandung, Garut, Sumatra, Serang, ada Jawa.
Interviewer : Untuk
merekrut juga Aa sendiri?
Informant : Iya saya semuanya.
Interviewer : Kayak
cari di OLX atau dari kenalan?
Informant : Enggalah masa cari di OLX, emangnya barang bekas. Biasanya
dari karyawan, “ada saudara saya mau kerja Pak, boleh ga? Gitu... terus
diinterview. Kita pernah buka loker.. tapi harus yang memang berpengalaman,
kayak kasir.
Interviewer : Berarti
setiap pegawai yang mau direkrut, harus Aa sendiri yang interview mereka tatap
muka?
Informant : Iya benar.
Interviewer : Ada
bikin budaya gitu ga di sini? Kayak misalnya ga boleh merokok atau apa.
Informant : Saya tidak seketat itulah. Tapi ya merokok pastinya sangat
tidak boleh ketika lagi kerja. Ada waktunya sendiri, yaitu ketika istirahat.
Interviewer : Semua
sistemnya tuh sudah dari awal dikomunikasikan sejak awal kerja? Hitam di atas
putih?
Informant : Iya sejak awal dikomunikasikan. Walaupun saya tidak ada
hitam di atas putih, tapi kalau dia ga bener kerjanya langsung saya keluarin,
pecat.
Interviewer : Oke.
Ohiya Geprek Bebas tidak ada di GO-FOOD ya A?
Informant : Iya karena ada masalah. Masalahnya miskomunikasi sih sama
pihak GO-JEK. Dulu pihak GO-JEK menjanjikan ke saya buka aplikasi GO-RESTO.
Karena dulu belum siap GO-RESTOnya, akhirnya karena saya udah tanda tangan, ya
mereka bilang hanya bisa berpartner dulu sama mereka. Jadi Geprek Bebas ini
dulunya tidak berpartner sama GO-FOOD tapi ada tercantum di aplikasinya. Cuman
si GO-FOOD itu ngelobi saya terus. Tetep saya ga mau dengan sistem yang akhir
bulan saya harus ngecek invoice.
Interviewer : Tapi
kalau GO-RESTO kan tiap hari laporannya?
Informant : Nah iya itu GO-RESTO ide dari saya, saya yang bilang ke
marketing manager dia. Karena dulu kan Geprek Bebas rame pisan tuh.
Interviewer : Jadi
sebelumnya itu Aa ngecek manual?
Informant : Bukan ngecek manual. Saya belajar dari pengalaman usaha
kuliner saya yang dulu, dan itu banyak missnya. Saya ga mau gitu loh. Bayangin
aja akhir bulan ngecek ribuan bon. Akhirnya dia balik lagi ke saya, ngejelasin
tentang GO-RESTO, “tapi baru bisa aktif bulan sekian”. “Oh ya udah saya tunggu
beres aja.” Terus mereka datang lagi, “kita sudah aktif nih GO-RESTOnya.” “Ya
udah mangga.” Berpartnerlah saya kan. Ternyata coba dijalanin, error. Ada
beberapa item yang belum siap. Akhirnya saya jadi GO-FOOD biasa. Saya dijanjiin
cuman 3 minggu udah balik lagi ke GO-RESTO. Ternyata engga, sampai 4 bulan,
saya juga ga ngecek. Saya baru sadar kenapa kok ga GO-RESTO. Pokoknya
miskomlah. Tiba-tiba tagihannya sangat membludak dari GO-FOOD. Saya dapat
tagihan bagi hasil penjualan hampir 100 juta. Ya gamaulah saya.
Interviewer : Terus
akhirnya Aa bayar?
Informant : Engga, saya ga mau. Orang saya cek aja itu banyak missnya.
Masa nasi ayam 26 ribu. Saya serahin ke bagian finance juga, ga beres-beres
ngeceknya. Jadi udah aja saya cari jalan tengah sama GO-FOOD, saya bayar 2
invoice terakhir, tapi udah beres masalah. Kemarin saya sempat aktif GO-RESTO,
tapi saya matiin dulu karena saya belum siap.
Interviewer : Jadi
benar-benar harus akurat gitu ya? Finance belum siap untuk ngecek satu-satu?
Informant : Bukan belum siap. Finance kan juga ada kerjaan kan. Ngecek
100 bon aja udah pusing. Belum kebayang saya bagaimana mengecek belasan ribu
bon.
Interviewer : Ada
ga bahan-bahan yang basi? Atau misalnya pegawainya boros?
Informant : Ada. Keteledoran pegawai pasti ada. Pernahlah. Kayak ayam
nih yang datang, seger merah, ada pegawai yang lupa masukin ke kulkas. Akhirnya
pernah 20kg busuk. Jadi dibuang deh. Ga pantas dijual, karena kalau dijual juga
pasti jadi bau.
Interviewer : Kalau
kayak gitu dihukum ga pegawainya?
Informant : Ada punishmentnya.. mungkin potong bonus atau potong gaji,
atau ga kalau yang keseringan, saya kasih SP. Stok udang misalnya, yang kasus
saya dulu. Itu mulai menipis, tapi ga laporan. Jadi ketika dibutuhin susah. Itu
juga perlu saya kasih hukuman. Jadi setiap ada stok yang menipis harus lapor ke
saya.
Interviewer : Aa
kenapa masih melakukan pemesanan supplies itu sendiri? Apa karena ga percaya
sama orang?
Informant : Bukan ga percaya sih. Saya pengen ada kerjaan sih, selama
saya masih bisa handle ya.
Interviewer :
Kenapa namanya bisa AGB?
Informant : Karena satu, saya kejar mahasiswa, jadi bebas nasi, bebas
cabe. Itu yang memang membedakan saya. Cabenya mau kalian 20 cabe, bebaslah.
Interviewer : Nah
tapi kan dalam hal itu sudah banyak yang mulai meniru, lalu bagaimana?
Informant : Saya percaya rezeki sudah ada yang atur. Biarkan mereka
memilih mana yang enak, mana yang ga enak.. harga pas di hati. Saya ga melihat orang,
yang penting saya tidak menurunkan kualitas, menurunkan rasa, saya tidak
merubah resep.
Interviewer : Tapi
tetap pernah ga penasaran sama geprek-geprek lainnya, terus nyobain?
Informant : Pernah.. nyobain, sekedar tahu-tahu.
Interviewer : Tapi
Geprek Bebas tuh ga kayak yang lain ya? Yang lain kan menunya variasinya banyak
gitu.
Informant : Kita mah original ajalah. Yang original itu kita
pertahankan. Ga dikeju-keju.
Interviewer : Semua
cabang masih sewa semua atau milik sendiri?
Informant : Dua cabang itu sewa. Kalau ada uang, saya pengen sih beli.
Satu doang yang milik sendiri, yang di Kopo karena tanah keluarga.
Interviewer : Kalau
boleh tahu sewa serumah ini berapa A?
Informant : Setahun 160an. Setiap tahun ada kenaikan. Walaupun saya
sewa 4 tahun langsung, ya tapi bedalah harga sewanya, saya ngertilah.
Interviewer : Kalau
peralatan?Aa sendiri yang beli?
Informant : Iya saya sendiri.
Interviewer :
Pernah ada mesin yang rusak gitu?
Informant : Ini showcase lagi rusak. Tapi saya udah beli baru sih. Baru
aja tadi dibeli. Tadi saya lagi ke ABC pas kamu bilang udah sampai.
Interviewer :
Berarti yang rusak ini akan dibuang?
Informant : Ini dikasih dari supplier ayam sih. Jadi ya.. pokoknya
kalau alat rusak secepatnya dibeli atau diperbaiki.
Interviewer : Kalau
beli ayam Aa tiap hari?
Informant : Iya tiap hari. Ini semua ini saya baru beli. Ayam ga bisa
disimpan lebih dari sehari.
Interviewer :
Pernah ada customer yang komplain? Itu gimana A?
Informant : Banyak.. Intinya kita harus merespon dengan cepat kalau ada
komplain.
Interviewer :
Komplainnya tentang apa A, kebanyakan?
Informant : Pelayanan. Tapi itu membuat kita semakin tahulah salah kita
apa. Menyiapkan nasi lama, terus judes.. biasalah.
Interviewer :
Pernah ada rambut masuk ke makanan ga?
Informant : Rambut sih ga pernah.. cuman pernah kita ayamnya kurang
matang.
Interviewer : Kalau
kayak gitu ada kompensasi?
Informant : Iya kita kompensasi. Kita pasti ganti atau ga, uang balik.
Interviewer :
Setelah itu karyawannya diapakan A?
Informant : Langsung saya tegur keras.
Interviewer : Aa
kan di sini punya role sebagai pemimpin. Nah ketika negur gitu harus galak?
Informant : Ya enggalah.. semua bisa diomongin baik-baik. Saya panggil
orangnya, “sini kamu.. kamu tahu salahnya apa?” Kayak gitu.. biar mereka tahu.
Interviewer : Baik,
sekian saja interviewnya A.. Terima kasih ya.
Informant : Siap sama-sama. Hati-hati pulangnya.

Komentar
Posting Komentar